Samarinda (ANTARA) - Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim) memproyeksi ekonomi di provinsi ini mengalami pertumbuhan tinggi pada kisaran 4,5 persen hingga 5,3 persen secara tahunan, meski nilai ekspor mengalami penurunan akibat berbagai faktor global.

"Meski ada beberapa faktor yang menahan pertumbuhan ekonomi Kaltim tahun ini, namun ada pula banyak faktor yang mendorong pertumbuhan ekonominya," kata Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Kaltim Jajang Hermawan di Samarinda, Rabu.

Faktor penahan itu antara lain rencana kerja anggaran belanja (RKAB) batu bara 2026 diprakirakan berada di 600 metrik ton (MT), lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 739,6 MT, diiringi penurunan permintaan batu bara dari negara mitra dagang, seiring berlanjutnya transisi menuju energi terbarukan.

Didampingi Deputi BI Kaltim Bayuadi Hardiyanto, ia melanjutkan, faktor penahan lainnya adalah permintaan batu bara diprakirakan tertahan akibat adanya wacana pengenaan bea ekspor 1-5 persen, sehingga berdampak pada harga batu bara dari Kalimantan menjadi kurang kompetitif.

Sedangkan faktor pendorong laju pertumbuhan ekonomi Kaltim 2026 antara lain sektor tambang yang diperkirakan mengalami kenaikan DMO (domestic market obligation/ pengutamaan pasokan batu bara atau hasil tambang untuk kebutuhan dalam negeri) dari 25 persen menjadi 30 persen.

Baca juga: Perusahaan mineral nasional jadi prioritas hadapi ekonomi global

Sejalan dengan hal tersebut, maka PLN terus memperkuat stok, sehingga PLN diperkirakan mampu menyerap 140–150 juta ton tahun ini.

Kemudian adanya penambahan kapasitas refinery migas sekitar 50 barel per hari (dari tahun 2025 hingga triwulan III 2026). Selain itu, pengembangan eksplorasi sumur gas sejak akhir 2025 berpotensi meningkatkan produksi industri produk turunan tahun ini.

"Faktor lainnya, pertumbuhan sektor konstruksi pada periode mendatang salah satunya akan bersumber dari rencana konstruksi sejumlah proyek besar di Ibu Kota Nusantara (IKN), diantaranya pembangunan ekosistem legislatif dan yudikatif," katanya.

Sebelumnya, saat buka puasa bersama BI Kaltim dengan insan pers, Bayuadi juga mengatakan, faktor lain pendongkrak ekonomi Kaltim tahun ini adalah perbaikan harga tandan buah segar (TBS) di awal 2026, diperkirakan mampu meningkatkan produksi TBS, didukung cuaca yang baik dan permintaan domestik kuat untuk B40.

"Ekspor berbagai produk industri pengolahan kini lebih tinggi dari prakiraan, seiring kemunculan berbagai pabrik/ industri baru (seperti smelter baru) yang turut mengekspor produknya juga turut mendorong ekspor Kaltim," kata Bayuadi.

Baca juga: BI Kaltim percepat ekonomi digital demi UMKM unggul



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Imam Santoso

COPYRIGHT © ANTARA 2026