Balikpapan (ANTARA) - Peningkatan permintaan masyarakat akan berbagai komoditas barang dan jasa selama Ramadan, ditambah musim hujan yang mengurangi pasokan sayur-mayur, membuat inflasi di Balikpapan meningkat 0,75 persen lebih tinggi dibanding Januari lampau (month-to-month atau mtm). Begitu pula dengan Penajam Paser Utara (PPU) yang melingkupi Ibu Kota Nusatara dengan kenaikan inflasi 0,89 persen mtm.
Di Balikpapan, kenaikan harga terutama disebabkan oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,27 persen. Komoditas yang paling mendorong inflasi adalah angkutan udara, emas perhiasan, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga (LPG), dan kangkung. Lonjakan tiket pesawat dipicu meningkatnya mobilitas masyarakat, sementara harga emas naik mengikuti tren global. Cabai rawit naik karena pasokan dari Jawa dan Sulawesi berkurang akibat musim hujan, dan LPG naik karena pasokan terbatas.
Di PPU, inflasi didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,68 persen. Komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, dan buncis. Harga ikan layang naik karena banyak nelayan tidak melaut akibat cuaca buruk.
Kepala Bank Indonesia (BI) Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, tekanan inflasi ke seusai Lebaran 2026 masih perlu diwaspadai.
Dia menyebut puncak musim hujan, gelombang laut tinggi, sebagai faktor yang dapat mengganggu pasokan. Apalagi selalu ada peningkatan permintaan selama Ramadan dan jelang Idul Fitri.
Baca juga: BPS proyeksi inflasi normal lagi April 2026
“Risiko pasokan masih tinggi, terutama untuk sayur-mayur dan hasil laut. Ini yang harus kita jaga agar tekanan harga tidak berlanjut,” kata Robi, baru-baru ini.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama TPID Balikpapan dan PPU menyiapkan langkah pengendalian inflasi melalui operasi pasar, pasar murah, peninjauan harga, penguatan perusahaan umum daerah pangan, serta perluasan kerja sama pasokan antardaerah. Masyarakat juga diimbau berbelanja bijak dan memanfaatkan program pasar murah selama Ramadan.
Di sisi lain, setidaknya sepanjang Februari tersebut, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga atau deflasi. Harga bensin jenis Pertamax, bawang merah, daging ayam ras, sawi hijau, dan baju muslim anak. Ketika itu harga Pertamax turun sebanyak Rp550 per liter sejak 1 Februari 2026 menjadi Rp12.100 per liter.
Saat ini di bulan Maret, harga Pertamax kembali naik Rp500, menjadikan harganya kembali Rp12.600 per liter.
Sementara itu, deflasi di PPU terutama disebabkan oleh kelompok transportasi. Komoditas yang turun harga antara lain bawang merah, ikan tongkol, bensin, cumi-cumi, dan bayam, didukung pasokan yang meningkat memasuki musim panen.
Baca juga: Kaltim siapkan pusat distribusi barang demi kurangi inflasi daerah
Pewarta: Novi AbdiEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026