Balikpapan (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan mencatat lebih dari sepuluh kasus warga tenggelam di waduk, saluran air, dan bekas galian sejak awal tahun. Tingginya kasus dalam tiga bulan terakhir mendorong BPBD mengeluarkan imbauan agar warga lebih waspada, terutama terhadap aktivitas anak-anak di sekitar lokasi rawan.
Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, mengatakan pihaknya kembali menangani lebih dari tujuh kejadian yang melibatkan anak-anak. Kasus pada orang dewasa tercatat lebih banyak, dan jika dihitung sejak Januari hingga Maret, totalnya lebih dari sepuluh kejadian.
Ia menyebutkan bahwa sejumlah titik rawan terus dipantau, salah satunya di sekitar Waduk Km 8 menuju kawasan Grand City. Di jalur itu, aliran air membentuk kubangan memanjang yang kerap dilintasi warga dan sebelumnya dijadikan lokasi memancing.
“Sudah ada tanda larangan melintas dan larangan memancing, tetapi sering diabaikan. Dari rencana empat titik pemasangan pengaman, kami tambah menjadi enam titik pagar dan penutup area,” kata Usman.
BPBD juga berkoordinasi dengan kelurahan dan dinas teknis untuk memastikan penanganan yang lebih permanen. Termasuk menelusuri status lahan di beberapa titik agar pemasangan pagar tidak terkendala.

“Kami ingin meminimalkan risiko, apalagi anak-anak paling rentan, maka kami imbau warga benar-benar berhati-hati,” tambahnya.
Peringatan ini muncul di tengah suasana duka yang mendalam di permukiman RT 37 dan RT 68 Graha Indah, Balikpapan Utara, setelah enam anak meninggal dunia akibat tenggelam di kubangan bekas galian di Jalan PDAM pada Senin (17/11/2025). Lokasi kubangan itu berada kurang dari 50 meter dari rumah warga, tanpa pagar pembatas maupun papan peringatan.
“Tidak pernah ada pagar, tidak ada juga papan bahaya. Padahal anak-anak sering bermain di sana,” kata Ketua RT 37, Andi Firmansyah. (Adv)
