Kutai Kartanegara (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur tengah berinisiatif memanfaatkan lahan bekas tambang batubara untuk membangun Agro Tekno Park, sebagai upaya percepatan transformasi ekonomi Kaltim menuju sektor pertanian berkelanjutan.
Sekretaris BRIDA Kaltim, Charmmarijaty, di Kutai Kartanegara, Selasa, menjelaskan bahwa konsesi tambang di Kaltim sangat luas, mencapai lebih dari 5 juta hektare. Dari total area eksploitasi yang melampaui 300 ribu hektare, lebih dari 130 ribu hektare telah menyisakan lubang atau void.
“Terdapat sekitar 1.735 titik lubang tambang di Kaltim, dengan titik terbanyak di Kukar (842) dan Samarinda (349),” ungkap Charmmarijaty pada Seminar Laporan Akhir Kajian Strategis Pembangunan Agro Tekno Park.
Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat biaya rehabilitasi lahan sangat besar. Oleh karena itu, BRIDA bekerja sama dengan tim riset, termasuk dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), untuk mengkaji cara mengoptimalkan lahan bekas tambang yang tidak lagi memiliki potensi ekonomi pertambangan.
Menurut Charmmarijaty, riset ini bertujuan menjadikan pemanfaatan lahan sebagai proyek percontohan (pilot project). Agro Tekno Park dirancang multifungsi, meliputi kawasan pengembangan ekonomi, pendidikan, dan wisata.
Ia menyebutkan bahwa proyek ini dapat menjadi model transformasi ekonomi dan dilakukan pengembangan secara bertahap.
"Rekomendasi dari riset, termasuk strategi pembiayaan dan peran lintas sektor, sangat penting. Untuk percepatan, hasil riset direkomendasikan untuk dimanfaatkan perusahaan tambang sebagai bagian program reklamasi," katanya.
Bagi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, lanjut Charmmarijaty, proyek ini akan menjadi program prioritas jangka panjang yang disesuaikan dengan RKPD dan RPJMD.
"Rekomendasi akhir riset diharapkan menghasilkan konsep pengelolaan yang sinergis antara Pemprov, Pemkab, dan perusahaan pertambangan," tegasnya.
