Samarinda (ANTARA) - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalimantan Timur (Kaltim) menyatakan bahwa penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) memiliki korelasi positif secara langsung dengan peningkatan produktivitas perusahaan.
"Dengan pekerja yang selamat, tentu pekerjaannya produktif dan berdampak pada omzet perusahaan," kata Kepala Disnakertrans Kaltim Rozani Erawadi di Samarinda, Selasa.
Menurutnya, jika stabilitas perusahaan ingin terjaga, penerapan norma K3 adalah sebuah keharusan.
Logikanya, lanjut Rozani, pekerja yang produktif karena terjamin keselamatannya berkontribusi langsung pada peningkatan pendapatan perusahaan.
"Dengan pekerja yang terlindungi, produktif dan sebagainya, tentu ada peningkatan laba perusahaan yang berimbas pada keberlanjutan usaha," tambahnya.
Oleh karena itu, Rozani mendorong pergeseran pandangan agar perusahaan tidak menggantungkan penerapan K3 hanya pada pengawasan pemerintah.
Sebaliknya, K3 harus dipahami sebagai kesadaran internal, baik dari sisi pekerja maupun manajemen perusahaan.
Pemerintah, lanjutnya, hadir untuk memastikan implementasi berjalan baik dan memberikan apresiasi, bukan menjadi satu-satunya motor penggerak.
Ia berharap K3 ke depan bukan lagi sekadar pemenuhan ketentuan regulasi. "Tetapi memang menjadi kebiasaan. Karena memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja adalah aset yang berharga bagi kelangsungan bisnis," ujar Rozani.
Budaya K3 ini harus menjadi kesepakatan bersama yang dijalankan oleh seluruh lini, dari direksi, manajemen HSE, hingga pekerja di lapangan.
Meskipun ada beberapa insiden kecelakaan kerja pada perusahaan di Kalimantan Timur pada 2025, ujar Rozani, hal itu justru menjadi pengingat bahwa prosedur keselamatan kerja bukan soal kewajiban, tetapi pada jaminan hidup.
"Harapan kita adalah nol kecelakaan maupun nol fatalitas," kata Rozani.
