Samarinda (ANTARA) - Peningkatan dimensi standar hidup layak yang diukur berdasarkan rata-rata pengeluaran riil per kapita per tahun di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sebesar Rp14,25 juta, mampu mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) provinsi ini menjadi 79,39.
"Dimensi standar hidup layak berdasarkan rata-rata pengeluaran riil per kapita per tahun Kaltim pada 2025 sebesar Rp14,25 juta, meningkat Rp461 ribu atau 3,34 persen ketimbang tahun sebelumnya," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana di Samarinda, Sabtu.
IPM Kaltim, pada 2025 meningkat 0,60 poin atau 0,76 persen ketimbang tahun sebelumnya yang tercatat 78,79. Peningkatan terjadi karena didukung oleh peningkatan di seluruh (tiga) dimensi pembentuknya.
Dua dimensi lain di luar dimensi standar hidup layak adalah pada dimensi kesehatan, yakni umur panjang dan hidup sehat, terdata bahwa umur harapan hidup bagi bayi lahir pada 2025 sebesar 75,28 tahun, meningkat 0,34 tahun ketimbang mereka yang lahir pada tahun sebelumnya.
Kemudian dimensi pengetahuan, harapan lama sekolah (HLS) penduduk umur 7 tahun ke atas pada 2025 sebesar 14,04 tahun, meningkat 0,01 tahun ketimbang tahun sebelumnya, dengan rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk umur 25 tahun ke atas sebesar 10,10, meningkat 0,08 tahun ketimbang 2024.
Berdasarkan data BPS, IPM Kaltim dalam lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan, menggambarkan keberhasilan pemerintah setempat dalam pembangunan di berbagai bidang.
Seperti pada 2020 dengan IPM Kaltim tercatat 75,94, pada 2021 naik menjadi 76,60, tahun 2022 naik lagi menjadi 77,36, tahun 2023 kembali naik menjadi 78,20, pada 2024 naik menjadi 78,79, dan pada 2025 ini kembali naik menjadi 79,39.
Ia juga mengatakan bahwa pertumbuhan IPM Kaltim pada 2025 tertinggi terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara yang sebesar 1,17 persen, lebih cepat dibandingkan rata-rata pertumbuhan yang terjadi selama 2020 – 2024.
"Sedangkan IPM Kota Samarinda memiliki pertumbuhan terendah se- Kaltim pada 2025 yang tercatat 0,51 persen, sedikit melambat jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan sepanjang 2020 – 2024," kata Yusniar.
