Samarinda (ANTARA) - Pakar perencanaan wilayah dan kota dari Universitas Mulawarman Warsilan memaparkan sejumlah solusi teknis dan non-teknis untuk menanggulangi persoalan banjir di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
"Kalau berbicara tentang penanganan banjir, kita harus melihat karakteristik DAS (Daerah Aliran Sungai) itu sendiri," kata Warsilan di Samarinda, Sabtu.
Ia menyoroti pentingnya sinkronisasi program antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kota Samarinda yang saat ini masih terlihat berbeda persepsi.
Warsilan menjelaskan bahwa prioritas Gubernur Kaltim cenderung pada revitalisasi DAS Makam untuk transportasi strategis regional dan pengerukan muara, sementara wali kota lebih fokus pada penanganan banjir di wilayah perkotaan.
Menurut dia, salah satu pendekatan teknis yang bisa digunakan adalah pembangunan embung, yakni wadah penampungan sementara yang berfungsi menahan air dari hulu agar tidak langsung turun ke bawah.
Baca juga: November jadi puncak musim hujan, waspada banjir-longsor
Penanganan di hulu menjadi penting karena di sana masih ada aktivitas tambang yang mempengaruhi kualitas air dan sedimentasi sungai.
Ia memetakan bahwa Samarinda sangat dipengaruhi oleh DAS Karangmumus, yang merupakan bagian dari sub-DAS Makam, serta DAS Karangasem dan sungai-sungai kecil lainnya.
Selain itu, faktor topografi Samarinda yang berada di titik nol atau hampir sejajar permukaan laut menjadi tantangan utama yang tidak bisa diabaikan.
"Artinya, ketika terjadi pasang laut dan hujan deras secara bersamaan, genangan tak terhindarkan," ujarnya.
Warsilan menyebut dalam kondisi tersebut, air baru bisa keluar ketika pasang surut, sehingga genangan bisa bertahan berjam-jam bahkan berhari-hari.
Kondisi ini berbeda dengan Balikpapan yang memiliki kemiringan lebih tinggi sehingga air lebih cepat mengalir ke laut.
Masalah lainnya adalah sedimentasi tinggi di muara sungai yang seharusnya dirawat setiap tahun agar lalu lintas kapal besar, termasuk kontainer, tidak terganggu.
Warsilan juga mengingatkan bahwa air dari hulu, seperti dari daerah Makam Hulu, Long Pange, bahkan dari Kalimantan Utara, turut berpengaruh terhadap volume air di Sungai Makam yang melintasi Samarinda.
"Jadi, penyebab banjir di Samarinda tidak hanya karena hujan, tetapi juga akibat kombinasi antara pasang surut air laut, kondisi topografi datar, sedimentasi di muara, dan lemahnya sinkronisasi program antara pemerintah kota dan provinsi," kata Warsilan.
Baca juga: BMKG ingatkan warga Kaltim waspada bencana hidrometeorologi
