Samarinda (ANTARA) - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menjadikan anak-anak usia SD dan SMP sebagai garda terdepan dalam upaya penyelamatan bahasa daerah di tengah memudarnya pewarisan dari generasi tua.
"Keengganan generasi sebelumnya itu mewariskan (bahasa daerah) ke generasi berikutnya, termasuk sikap antusias terhadap bahasa daerah juga yang kurang bagus," kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Kaltim Asep Juanda di Samarinda, Selasa.
Asep menjelaskan bahwa sikap tersebut berkontribusi langsung pada kondisi bahasa daerah yang mengalami kemunduran, rentan, hingga terancam punah.
Ancaman ini sejalan dengan klaim UNESCO pada 2018 yang menyebut bahwa setiap dua minggu, satu bahasa daerah di dunia dinyatakan punah. Di Indonesia, dari 718 bahasa daerah yang terdata, banyak yang berstatus kritis dan terancam punah, terutama di kawasan Indonesia bagian timur.
Menyikapi krisis pewarisan tersebut, Balai Bahasa Kaltim menggelar program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang kini telah memasuki tahun keempat pelaksanaannya.
Alih-alih mengandalkan pewarisan alami di lingkungan keluarga, program ini menciptakan ekosistem baru pembelajaran bahasa ibu melalui jalur sekolah.
Baca juga: Balai Bahasa Kaltim perkuat penggunaan Bahasa Indonesia di pemerintahan dan swasta
Mekanismenya dimulai dengan melatih para 'Guru Utama' yang kemudian wajib melakukan pengimbasan atau menularkan ilmunya kepada guru-guru sejawat di daerah masing-masing.
*Fokus utamanya adalah melatih siswa-siswi SD dan SMP agar aktif dan terampil menggunakan bahasa daerah dalam berbagai bentuk kreativitas," ucap Asep.
Puncak dari program ini adalah Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), sebuah ajang kompetisi berjenjang dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi.
Materi yang dilombakan pun dibuat menarik bagi generasi muda, meliputi pidato, mendongeng, menulis cerpen, menyanyi, tembang, hingga komedi tunggal (stand-up comedy) yang seluruhnya menggunakan bahasa daerah.
"Di Kaltim, yang direvitalisasi untuk sekarang ini baru tiga bahasa daerah, yaitu bahasa Kutai, Paser, dan Melayu Kutai," tambahnya.
Baca juga: Badan Bahasa revitalisasi 120 bahasa daerah di seluruh Indonesia
Langkah ini menurut Asep menjadi vital untuk melindungi kekayaan linguistik Benua Etam yang sangat beragam. Di Kaltim tercatat memiliki total enam belas bahasa daerah.
Bahasa-bahasa tersebut mencakup bahasa asli daerah seperti Aoheng (Penihing), Bahau Diaq Lay, Benuaq, Basap, Kenyah, Punan Merah, Segaai, dan Tunjung, serta bahasa pendatang yang telah lama hadir seperti Bugis dan Jawa.
