Samarinda (ANTARA) - Langit Kalimantan Timur (Kaltim) telah lama menjadi saksi denyut nadi energi bangsa.
Asap yang mengepul dari cerobong industri migas dan deru mesin-mesin raksasa di pertambangan batu bara adalah bentangan akrab di Benua Etam, yang telah menopang ekonomi regional dan nasional selama beberapa dekade.
Tetapi, di tengah citra sebagai lumbung energi fosil, sebuah narasi baru yang lebih senyap namun penuh harapan mulai bergema--narasi tentang transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pergeseran ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan. Ketergantungan pada industri ekstraktif yang tak terbarukan ibarat pedang bermata dua.
Di satu sisi, ia memberikan pesona ekonomi, namun di sisi lain, menyisakan jejak karbon dan dampak lingkungan yang tak bisa diabaikan.
Bagi Kaltim, yang juga sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN), transisi energi menjadi langkah krusial untuk memastikan masa depan yang sejahtera sekaligus lestari.
Upaya Kaltim untuk melepaskan diri dari kungkungan energi fosil mulai menunjukkan bentuk nyata.
Pemerintah provinsi secara aktif mendorong pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), menjajaki potensi tenaga surya, air, hingga biomassa.
Ini adalah sebuah langkah awal yang fundamental untuk mengubah citra Kaltim, dari penghasil emisi menjadi pelopor ekonomi hijau di Indonesia. Cita-cita besarnya adalah tetap menjadi lumbung energi nasional, namun dengan sumber daya yang ramah lingkungan.
Komitmen Kaltim dalam menjaga ketahanan iklim mendapatkan pengakuan di panggung global. Salah satu bukti paling sahih adalah keikutsertaannya dalam program Forest Carbon Partnership Facility – Carbon Fund (FCPF-CF).
Program yang diinisiasi oleh Bank Dunia ini bukanlah sekadar proyek biasa, melainkan sebuah skema pembiayaan berbasis kinerja yang memberikan insentif finansial atas keberhasilan Kaltim menekan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan.
Kaltim menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerima pembayaran semacam ini.
Pada tahun 2023, Kaltim telah berhasil menerima pembayaran tahap awal sebesar USD 20,9 juta. Dana ini telah didistribusikan ke berbagai lapisan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, hingga menyentuh langsung 441 desa dan 150 kelompok masyarakat.
"Target kita selesai di bulan September agar bisa dimanfaatkan hingga Desember 2025 karena kontrak berakhir Desember 2025," ujar Seno.
Lantas, upaya ini tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah dan lembaga donor internasional. Peran sektor swasta, terutama lembaga keuangan, menjadi sangat vital untuk mempercepat dan memperluas skala inisiatif hijau di Tanah Air.
Di sinilah peran institusi keuangan seperti CIMB Niaga menjadi relevan. Menempatkan keberlanjutan sebagai bagian integral dari strategi bisnisnya, CIMB Niaga menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung agenda transisi energi nasional.
Hal ini dibuktikan dengan alokasi pembiayaan yang signifikan, di mana hampir 25 persen dari total portofolio bank, atau setara dengan Rp57,6 triliun, diarahkan untuk mendukung ekonomi rendah karbon dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) PBB.
Komitmen tersebut tidak hanya berhenti pada angka. CIMB Niaga mewujudkannya melalui berbagai inisiatif konkret, seperti partisipasi dalam peluncuran perdagangan karbon internasional melalui IDX Carbon pada awal tahun ini, hingga langkah praktis pemasangan panel surya di salah satu kantor cabangnya.
Keberlanjutan dan pemberdayaan
Salah satu terobosan paling signifikan adalah kemitraan strategis CIMB Niaga dengan United Nations Environment Programme (UNEP), UN Women, dan Basel Agency for Sustainable Energy (BASE Foundation).

Melalui kolaborasi ini, CIMB Niaga menerima dana hibah untuk mensubsidi pembiayaan energi berkelanjutan yang menyasar segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM), khususnya yang dipimpin oleh perempuan atau kelompok rentan.
Program ini sejatinya memiliki semangat yang sama dengan dana karbon FCPF-CF di Kaltim, yaitu memastikan bahwa transisi hijau memberikan manfaat langsung kepada masyarakat di tingkat akar rumput.
Jika FCPF-CF memberikan insentif bagi desa dan komunitas adat untuk menjaga hutan, maka program CIMB Niaga membuka akses bagi para pengusaha perempuan untuk beralih ke energi bersih, memberdayakan mereka secara ekonomi sekaligus mengurangi jejak karbon.
"Kami bangga menjadi mitra UNEP, UN Women, dan BASE Foundation dalam memperluas akses pembiayaan untuk UKM wanita. Inisiatif tersebut memperkuat komitmen CIMB Niaga dalam mendukung pemberdayaan ekonomi wanita, memperluas keuangan inklusif, serta mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon yang berkelanjutan," jelas Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.
Apa yang dilakukan CIMB Niaga adalah cerminan dari bagaimana sektor perbankan dapat menjadi katalisator bagi cita-cita besar Kaltim dan Indonesia.
Ketika program FCPF-CF menjadi pionir skema pembiayaan di tingkat pemerintah, inisiatif dari sektor swasta seperti CIMB Niaga melengkapinya dengan menyentuh langsung unit-unit ekonomi masyarakat.
Akses untuk semua
Komitmen untuk mendorong masa depan yang berkelanjutan tidak hanya berhenti pada portofolio pembiayaan hijau.
Ujung tombak dari realisasi visi ini terletak pada bagaimana sebuah institusi keuangan menjalankan operasionalnya dan melayani nasabah. Di sinilah pilar kedua dari strategi CIMB Niaga berperan, yaitu akselerasi digital yang inklusif dan efisien.
Transformasi digital bukan sekadar modernisasi, melainkan sebuah instrumen fundamental untuk membuat produk dan layanan—termasuk keuangan berkelanjutan—dapat diakses oleh lebih banyak orang, di mana pun mereka berada.

Inovasi dan fokus pada kebutuhan nasabah (customer centricity) menjadi DNA dari pengembangan digital CIMB Niaga.
Hal ini terbukti dari fakta bahwa 90 persen dari total transaksi finansial nasabah pada semester I 2025 telah dilakukan melalui layanan branchless banking seperti OCTO Mobile, OCTO Clicks, Bizchannel@CIMB, dan ATM.
Itu menunjukkan pergeseran perilaku yang signifikan, di mana efisiensi dan kemudahan menjadi prioritas utama nasabah.
Platform andalan OCTO Mobile telah bertransformasi menjadi aplikasi digital banking komprehensif yang mendukung gaya hidup nasabah digital savvy. Layanan esensial seperti transfer BI-FAST, top-up e-wallet (GoPay, OVO, ShopeePay), pembayaran QRIS, dan beragam pembayaran tagihan tersedia untuk mendukung aktivitas harian nasabah.
Inovasi terbaru yang diluncurkan antara lain QRIS Tap, metode pembayaran contactless menggunakan perangkat Android ber-NFC, dan fitur Click-to-Call yang memungkinkan nasabah menghubungi layanan 14041 melalui koneksi internet.
Di ranah investasi digital, CIMB Niaga mengusung tema #GetWealthSoon untuk mendorong kebiasaan investasi sejak dini di kalangan generasi muda. Melalui OCTO, nasabah dapat dengan mudah berinvestasi pada reksa dana, obligasi pemerintah ritel, dan obligasi sekunder.
Aplikasi ini juga dilengkapi fitur untuk membandingkan kinerja instrumen investasi, menampilkan data historis 5 tahun, dan kinerja portofolio bulanan, dengan aspirasi untuk menjadi platform digital wealth terbaik di Indonesia. Keberhasilan strategi ini tercermin dari peningkatan transaksi finansial melalui OCTO (aplikasi dan website) yang naik sebesar 35 persen pada paruh pertama 2025.
Tidak hanya di dunia maya, CIMB Niaga juga menghadirkan pengalaman digital di ranah fisik melalui model Digital Branch yang memadukan fitur Cabang Konvensional dan Digital Lounge.
Hingga 30 Juni 2025, konsep ini telah diimplementasikan di 54 lokasi di seluruh Indonesia. Integrasi ini secara signifikan meningkatkan efisiensi, di mana proses seperti pembukaan tabungan hingga penggantian kartu dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit melalui mesin Self-Service Banking.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan melalui transformasi digital ini memiliki benang merah yang kuat dengan agenda keberlanjutan. Digitalisasi menciptakan efisiensi yang mengurangi jejak karbon operasional perbankan—lebih sedikit kertas, lebih sedikit perjalanan ke cabang.
Lebih penting lagi, platform digital seperti OCTO Mobile menjadi gerbang bagi masyarakat luas, termasuk di daerah seperti Kalimantan Timur, untuk mengakses produk investasi hijau atau mendapatkan pembiayaan untuk usaha ramah lingkungan.
Validasi global
Kinerja komprehensif CIMB Niaga, mulai dari performa keuangan, inovasi digital, hingga komitmen ESG, mendapatkan pengakuan luas dari berbagai institusi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Puncaknya adalah keberhasilan meraih lima penghargaan sekaligus dalam ajang prestisius Asian Banking & Finance Awards 2025 yang diadakan di Singapura.
Kelima penghargaan tersebut adalah Corporate & Investment Bank of the Year-Indonesia, Syndicated Loan of the Year-Indonesia, Corporate Client Initiative of the Year-Indonesia, Indonesia Domestic Project Finance Deal of the Year, dan Indonesia Domestic Cross-Border Service Initiative of the Year.
Selain itu, sepanjang semester pertama 2025, CIMB Niaga juga menerima puluhan penghargaan lain yang menegaskan keunggulannya di berbagai bidang.
Beberapa di antaranya adalah penghargaan untuk layanan digital seperti The 2nd Best Mobile Banking KBMI 3 dari Infobank dan Isentia, serta The Most Innovative Digitalization of Conventional Bank 2025 dari Warta Ekonomi.
Di bidang keberlanjutan, bank ini meraih The Best Corporate Emission Reduction Transparency Awards 2025 dari Investortrust dan Best Green Loan Automotive dari The Asset Triple Asset Asian Awards 2025. Berbagai penghargaan untuk layanan nasabah, produk, hingga tata kelola perusahaan yang baik turut melengkapi daftar panjang prestasi tersebut.
Dengan fondasi yang kokoh, mesin digital yang terus berakselerasi, dan kompas keberlanjutan yang jelas, CIMB Niaga memosisikan diri untuk tidak hanya tumbuh secara finansial, tetapi juga memberikan dampak positif yang lebih luas.
Sejalan dengan tujuan Advancing Customers and Society dan brand promise Kejar Mimpi, bank ini terus berkomitmen untuk menyediakan solusi perbankan yang Simpler, Better, and Faster demi mendukung kemajuan nasabah dan masyarakat Indonesia.
Bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia ini berhasil membukukan laba sebelum pajak konsolidasi (unaudited) sebesar Rp4,4 triliun.
Angka ini tidak hanya mencerminkan kesehatan finansial, tetapi juga merupakan buah dari implementasi dua pilar utama: transformasi digital yang berpusat pada nasabah dan komitmen mendalam terhadap praktik keberlanjutan.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyatakan bahwa kinerja baik ini mencerminkan implementasi strategi yang dijalankan secara konsisten dan disiplin.
"Kami mencatat pertumbuhan kredit yang baik dan terukur sesuai dengan profil risiko dan kondisi pasar. Di saat yang sama, kami tetap menjaga kualitas aset yang stabil, tingkat permodalan dan likuiditas yang kuat, serta sumber pendapatan yang terdiversifikasi dengan baik, sehingga dapat memperkuat posisi kami di industri,” papar Lani.
Kinerja impresif CIMB Niaga ditopang oleh fundamental keuangan yang kuat di berbagai lini. Per 30 Juni 2025, total aset konsolidasian bank mencapai Rp357,9 triliun, mengukuhkan posisinya di industri perbankan nasional. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan total penyaluran kredit dan pembiayaan yang tumbuh sebesar 6,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi Rp231,8 triliun.
Pertumbuhan kredit ini tersebar di berbagai segmen utama, dengan Perbankan Korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,3 persen secara tahunan, diikuti oleh Usaha Kecil Menengah (UKM) yang naik 7,3 persen secara tahunan, dan Perbankan Konsumer yang tumbuh 4,7 persen secara tahunan.
Secara khusus, di segmen ritel, Kredit Pemilikan Mobil (KPM) menjadi motor penggerak dengan lonjakan signifikan sebesar 26,7 persen secara tahunan.
Dari sisi pendanaan, Total Dana Pihak Ketiga (DPK) berhasil dihimpun sebesar Rp261,9 triliun, atau meningkat 4,8 persen secara tahunan. Salah satu pencapaian penting adalah pertumbuhan dana murah atau Current Account and Savings Account (CASA) yang naik 10,9 persen secara tahunan menjadi Rp180,6 triliun. Kenaikan ini berkontribusi pada rasio CASA yang sangat sehat, mencapai 69,0 persen dari total DPK, yang didorong oleh upaya bank dalam membina hubungan nasabah yang lebih erat dan meningkatkan pengalaman nasabah melalui layanan digital.
Kesehatan likuiditas dan permodalan bank juga senantiasa terjaga solid, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di level 24,0 persen dan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 87,3 persen.
Unit Usaha Syariah (UUS) CIMB Niaga juga terus menunjukkan performa gemilang dan berhasil mempertahankan posisinya sebagai UUS terbesar di Indonesia. Total pembiayaan syariah mencapai Rp59,6 triliun per 30 Juni 2025, naik Rp1,5 triliun atau 2,5 persen secara tahunan, yang terutama didorong oleh pertumbuhan di segmen Wholesale dan Commercial.
Dari sisi pendanaan, UUS CIMB Niaga mencatatkan DPK sebesar Rp48,2 triliun, dengan fokus berkelanjutan untuk memperkuat komposisi dana murah melalui kerja sama strategis berbasis syariah.
