Wilayah yang menjadi incaran para pengedar uang palsu antara lain di Kabupaten Penajam dan Tanah Grogot, di wilayah kerja kami,"
Balikpapan (ANTARA Kaltim) - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Mawardi mengatakan, para pengedar uang palsu kini mulai mengincar kabupaten di pinggiran kota sebagai tempat untuk mengedarkan uang palsu.

"Wilayah yang menjadi incaran para pengedar uang palsu antara lain di Kabupaten Penajam dan Tanah Grogot, di wilayah kerja kami," katanya di Balipapan, Rabu.

Ia mengatakan, sampai Desember 2013, BI Perwakilan Balikpapan menemukan uang palsu hingga 641 lembar. Pada tahun sebelumnya sebanyak 431 lembar.

"Hampir seluruh temuan uang palsu itu berasal dari Penajam Paser Utara dan Paser, dua kabupaten di selatan Balikpapan. Kabupaten seperti itu menjadi sasaran empuk karena dianggap masyarakatnya belum mengenal baik uang palsu sehingga gampang ditipu.

Di sisi lain, perkembangan ekonomi kedua daerah itu juga sangat pesat. Kedua kabupaten memiliki banyak perkebunan besar kelapa sawit yang menjadi pendorong ekonomi selain pertanian masyarakat dan pertambangan batu bara.

"Saya menduga memang demikian, karena masyarakat di pesisir, atau di daerah pedalaman seperti itu gampang ditipu, karena itulah BI Perwakilan Balikpapan terus menggelar sosialisasi tentang cara-cara mengenali uang palsu.

Peredaran uang palsu itu dimulai dari para kasir di bank atau "teller", cara-cara pengenalan uang palsu juga diteruskan hingga ke masyarakat umum.

"Kami mulai dari para kasir itu, yang sosialisasinya kami gelar Sabtu kemarin. `Teller` bank itu ujung tombak kami dalam melawan peredaran uang palsu," kata Mawardi.

Ia mengatakan, tindakan yang diambil para "teller" bank apabila menemukan uang palsu adalah segera menahan uang tersebut sehingga keluar dari peredaran, berapa pun jumlahnya.

"Jangan sampai perbankan membiarkan uang itu kembali beredar hanya karena tidak mau repot melaporkan ke Bank Indonesia, atau tidak berani dengan nasabahnya," kata Mawardi.

Jika di masyarakat umum sudah dipopulerkan jargon "dilihat, diraba, diterawang" untuk mengenal keaslian uang, bagi para kasir atau "teller" masih berlaku jargon yang sama, tapi mereka harus melihat lebih banyak lagi tanda-tandanya.

Menurut dia, ada sejumlah ciri keaslian uang yang hanya terlihat di bawah sinar lampu ultra violet, seperti tinta tidak nampak, gambar, atau tulisan yang baru jelas setelah dilihat dengan kaca pembesar.

Seluruhnya ada 17 penanda keaslian uang, 10 di muka, yaitu di bagian yang ada gambar pahlawan nasionalnya, dan 7 lagi di baliknya, pada bagian yang bergambar seni budaya.

"Yang dapat dilihat itu jika uang asli, ada benang pengamannya, warna yang cerah, ada gambar airnya, diberbagai bagian uang bisa terlihat sejumlah gambar atau logo yang berganti warna bila dilihat dari sudut pandang berbeda," ujarnya.

Seperti logo BI di kanan bawah uang bagian muka, kata Mawardi.

Bagian yang diraba, ada cetakan kasar gambar Garuda Pancasila, ada kode untuk tunanetra di sisi kanan, dan cetakan kasar nilai nominal uang itu.   (*)

Pewarta: Novi Abdi
: Amirullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026