Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Kalimantan Timur, Raden Roro Rani Meita Pratiwi menekankan konsistensi perilaku jauh lebih relevan dalam upaya menjaga kesehatan jiwa masyarakat dibandingkan sekadar penetapan resolusi.

"Konsistensi lebih relevan daripada resolusi dalam menjaga kesehatan jiwa karena resolusi cenderung besar dan motivasinya tinggi di awal namun mudah menurun," kata Rani Meita Pratiwi di Samarinda, Sabtu.

Ia menjelaskan bahwa pola pikir yang mengandalkan resolusi seringkali menjebak seseorang pada target perubahan besar yang harus berhasil dalam waktu singkat sehingga memicu tekanan mental tersendiri.

Sebaliknya, konsistensi melibatkan langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari dengan motivasi yang jauh lebih stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Ia menilai pendekatan konsistensi lebih menyehatkan mental karena fokus utamanya terletak pada penghargaan terhadap proses, pertumbuhan pribadi, keinginan belajar, ketekunan, serta kedisiplinan diri.

"Masyarakat perlu mengubah persepsi tentang pencapaian kesehatan mental yang tidak harus selalu dimulai dengan perubahan drastis pada awal tahun," ungkapnya.

Selain masalah metode pencapaian, Rani juga menyoroti banyaknya konsep sehat jiwa yang masih sering disalahpahami oleh masyarakat luas hingga saat ini.

Kesalahpahaman yang paling umum terjadi adalah anggapan bahwa seseorang yang sehat jiwanya harus selalu merasa bahagia setiap saat tanpa merasakan emosi negatif.

"Masyarakat juga sering mengira bahwa indikator kesehatan mental adalah tidak adanya masalah hidup, memiliki tingkat produktivitas yang terus menerus tinggi, serta memiliki penghasilan atau gaji yang mapan," kata Rani.

Menurut dia, faktor eksternal seperti keluarga yang harmonis, pasangan yang selalu memahami, dan lingkaran pertemanan yang sehat juga kerap dijadikan tolok ukur mutlak bagi kesehatan jiwa seseorang.

Padahal, Rani menegaskan bahwa kesehatan jiwa yang sejati justru dimulai dari kesadaran penuh seseorang akan kelemahan, kelebihan, potensi diri, harapan, hingga penerimaan terhadap masa lalu.

Ia mengemukakan, kuncinya terletak pada kemampuan individu tersebut untuk beradaptasi dengan situasi sulit dan menghadapi tantangan tersebut secara efektif tanpa kehilangan fungsi sosialnya.

"Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak terjebak pada standar kesempurnaan semu yang justru dapat memicu rasa cemas ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi ideal tersebut," demikian Rani.

Pewarta: Ahmad Rifandi

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2026