Dominasi petenis meja Ma Long dan negaranya, China, di tenis meja tunggal putra terus berlanjut seusai atlet berusia 32 tahun itu menyabet medali emas Olimpiade Tokyo 2020 pada Jumat.


Menghadapi kompatriotnya, Fan Zhendong, Ma menang 4-2 (11-4, 10-12, 11-8, 11-9, 3-11, 11-7) dalam pertandingan perebutan medali emas yang berlangsung satu jam empat menit di Tokyo Metropolitan Gym, demikian catatan laman resmi Olimpiade.

Itu menjadi partai pamungkas All-China Final keempat di tenis meja tunggal putra dalam empat edisi Olimpiade beruntun.

Bagi Ma pribadi, ia menegaskan dominasinya setelah mempertahankan emas tunggal putra yang juga ia raih di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, serta gelar juara dunia 2015, 2017 dan 2019.

Ia menjadi satu-satunya petenis meja yang memenangi medali emas tunggal putra Olimpiade dua kali.

"Saya pikir, saya salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Tiap generasi diisi atlet yang berbeda dan semuanya tergantung akan lingkungan dan apakah mereka akan berhadapan satu sama lain," kata Ma selepas memenangi emasnya.

"Untuk seseorang menjadi juara, artinya dia punya jalan untuk menjadi sukses. Bisa menjadi salah satu yang terbaik sepanjang masa adalah anugerah bagi saya," ujarnya menambahkan.

Ma bahkan berkesempatan untuk kian menajamkan catatan bersejarahnya ketika memperkuat China di nomor beregu putra yang akan mulai bergulir pada Senin (1/8).

Bersama rekan-rekannya, Ma sudah berhasil menyabet emas nomor beregu putra Olimpiade London 2012 dan Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Sementara itu medali perak tunggal putra diraih oleh wakil Jerman Dimitrij Ovtcharov yang mengalahkan petenis meja Taiwan Lin Yun Ju 4-3.

Ovtcharov menambah koleksi medalinya jadi lima buah dengan perunggu tunggal putra Olimpiade London 2012, perak beregu putra Olimpiade Beijing 2008 serta perunggu beregu putra Olimpiade London 2012 dan Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Pewarta: Gilang Galiartha

Editor : Abdul Hakim Muhiddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2021