Kutai Kartanegara Miliki Tujuh Situs Lama Bersejarah

Tenggarong (ANTARA News Kaltim) - Peziarah Makam Raja Kutai Lama di Anggana, Kutai Kartangera, usai syukuran selamatan doa dan tabur bunga membagikan makanan serta uang kepada puluhan anak hingga kaum dewasa warga sekitar makam. (Suratmi/ANTARA News Kaltim)

Berita Terkait
Tenggarong (ANTARA News Kaltim) - Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur memiliki tujuh situs lama bersejarah yang menyimpan berbagai cerita dan mitos menarik, sehingga dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan asing maupun domestik untuk mengunjunginya.

"Di Kutai Kartanegara ini, selain situs lama komplek pemakaman raja di Kutai Lama, juga terdapat enam situs lama bersejarah lainnya," kata Pengurus Adat Desa Kutai Lama, Abdullah, di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Rabu.

Abdullah yang juga PNS Dinas Perkebunan itu menyebutkan enam situs lama lainnya, yakni Jahitan Layar, Sungai Keramat, Sungai Kutai, Sungai Tempurung, Gunung Gong, dan Tambora.

Menurut dia, ketujuh situs lama tersebut merupakan cikal bakal Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia.

"Situs Jahitan Layar konon ceritanya ada saudagar China datang ke Kalimantan dan terdampar di pantai sambil menjahit layar di Gunung Layar makanya dinamakan situs Jahitan Layar. Bila kita berlayar dari Jawa atau Sulawesi paling pertama terlihatnya di Jahitan Layar ini," ujarnya.

Abdullah mengakui keluarganya masih memiliki hubungan dengan keluarga raja atau grand kerajaan yang mendapat mandat mengelola komplek makam raja Kutai.

Lebih lanjut dia menceritakan, Situs Sungai Keramat merupakan tempat bermukim keluarga raja di lokasi seberang sungai Kutai Lama.

"Sungai Kutai sendiri merupakan anak sungai Kutai Lama tembus Gunung Pasir, di mana setiap mau Erau Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martadipura menjadi pusat kegiatan khususnya sejak masa pemerintahan almarhum Presiden Abdurrahman "Gusdur" Wahid," ujarnya.

Sementara itu Situs Sungai Tempurung yang berbatasan dengan Sungai Karang Mumus merupakan tempat Sultan berburu dan mengembara.

"Kalau lokasi Gunung Gong empat kilo meter dari Kutai Lama sebagai tempat peristirahatan, tempat berburu raja dan pada hari-hari tertentu atau hari naas seperti Jumat siang sampai sekarang di sana ada bunyi gong," katanya.

Situs ketujuh, menurut Abdullah, yakni situs Tambora menjadi lokasi total sekarang merupakan tempat rekreasi keluarga kerajaan.

Sri Utari salah satu penziarah Makam Raja di Kutai Lama menyampaikan telah beberapa kali datang ke lokasi makam untuk selamatan, ziarah, berdoa dan bermunajat.

Ia mengatakan, komplek makam raja itu memiliki berkah, dalam berziarah sembari bersedakah kepada anak-anak di sekitar makam.



Ratusan peziarah

Ratusan peziarah khususnya pada Sabtu-Minggu, hari-hari libur nasional, serta menjelang bulan puasa, memadati situs lama makam Raja Kutai Lama yang berlokasi di Desa Kutai Lama Anggana, Kutai Kartanegara.

"Terutama hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional maka pengunjung membludak walaupun hari-hari biasa juga tetap ada kunjungan peziarah dengan berbagai keperluan doa maupun hajat," kata Abdullah.

Berbagai tata tertib bagi peziarah telah dituangkan dalam surat Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura Drs Adji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soryo Adiningrat No 003/SEK-KD/KK/I/2009.

"Oleh Sultan untuk pengelolaan makam keramat Raja Kutai Lama Sultan Adji Raja Mahkota Mulia Islam, anaknya Sultan Adji Dilanggar dan Ulama Besar Tunggan Parangan diserahkan kepada Kepala Desa dan Kepala Adat yang terdiri delapan pengurus," kata Abdullah.

Dia tuturkan peziarah yang datang dalam jumlah rombongan dengan membawa berbagai makanan untuk selamatan maka telah disediakan pendopo selamatan keramat Kutai Lama.

Jika berbagai makanan yang dibawa sudah dimasak dari rumah maka akan langsung di prosesi untuk doa bersama sesuai hajat mereka yang dipimpin oleh pengurus adat Kutai Lama. "Tetapi bagi peziarah yang melakukan penyembelihan kambing atau sapi maka akan dikoordinasikan dengan pengurus adat," katanya.

Prosesi selanjutnya peziarah akan naik ke area makam kedua raja, dengan membawa makanan yang telah dibungkus untuk selanjutnya usai didoakan oleh juru kunci makam, akan dibagikan bagi puluhan anak maupun orang dewasa yang sudah antre.

Usai ziarah di komplek makam raja biasanya akan dilanjutkan ziarah di makam ulama besar Tunggang Parangan yang terletak diseberang jalan sebagai orang aulia yang telah mengislamkan Raja Kutai Lama Adji Raja Mahkota Mulia Islam.

Sama seperti di area komplek area makam raja maka di area makam ulama inipun puluhan anak dan orang dewasa sudah menunggu sedekah makanan maupun uang para peziarah.

Dengan banyaknya kunjungan peziarah saat ini telah membuka peluang perekonomian rakyat di antaranya warung makanan dan penjualan bunga untuk ziarah.   (*)

Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar