Balikpapan (ANTARA News Kaltim) - Kelompok Pencinta Alam (KPA) Wanadri bersama para pemanjat Kutai Timur akan melakukan ekspedisi pemanjatan pertama tebing-tebing batu kapur di kawasan Mangkalihat-Sangkulirang, Kalimantan Timur, mulai Kamis (12/4).

"Tim akan bertolak dari Bandung dengan pesawat Hercules," kata Indra, koordinator survei ekspedisi, saat di Balikpapan, Jumat.

Ekspedisi itu bertajuk "Ekspedisi Dinding Barat Tondoyan", beranggotakan para pemanjat tebing dari Wanadri dan pemuda pencinta alam Kutai Timur.

Ada 12 pemanjat dan 5 orang yang bertugas melakukan pendataan keadaan lingkungan hingga sosial antropologi kawasan tebing- batu kapur (karts) tersebut.

Dari Bandung tim akan berkumpul di Balikpapan, baru kemudian bertolak ke Sangatta, dan terus ke Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, atau sekitar 350 km utara Balikpapan.

Di Balikpapan tim akan terakhir kali mengisi suplai perlengkapan dan perbekalan untuk dibawa ke lokasi dinding besar (big wall) Tondoyan di Mangkalihat-Sangkulirang.

"Dinding Tondoyan itu menara batu kapur yang puncaknya sampai di ketinggian 1.071 meter dari permukaan laut (mdpl)," kata Azhari Fauzi, anggota tim ekspedisi lainnya.

Menara seperti itu berupa batuan sedimen yang terbentuk di lingkungan laut dangkal, tersusun atas koloni binatang karang sebelum akhirnya terangkat ke permukaan karena gerakan dinamis bumi.

Tinggi tebingnya sendiri dari kaki tebing hingga puncak mencapai 771 meter. Tebing berada di rimba lebat hutan primer dan sekunder. Oleh masyarakat sekitar, tebing tersebut disebut Gunung Kulat.

Total waktu yang disediakan untuk ekspedisi ini adalah 56 hari. Sebelumnya, tim melakukan latihan intensif. Tim Wanadri berlatih di tebing-tebing kapur di Citatah, Jawa Barat, sementara anggota tim dari Kutai Timur berlatih di Sangatta, Kutai Timur.

"Terutama latihan fisik, karena teknik dapat dengan mudah dibagi saat ketemu nanti," tutur Indra.

Secara lebih spesifik, Gunung Kulat terletak pada koordinat 01 derajat 14' - 01 derajat 15' Lintang Utara dan 117 derajat 16' - 117 derajat 17' Bujur Timur. Oleh Pemkab Kutai Timur kawasan karst ini ditetapkan sebagai Pusaka Alam dan Pusaka Budaya.

Penetapan itu karena dari ilmu antropologi dan arkeologi, dilihat bahwa jejeran gunung karst ini menyimpan cerita manusia-manusia pertama Kalimantan, jauh lebih tua dari kebudayaan Kutai.

Hal ini dibuktikan dengan temuan lukisan tangan di dinding-dinding karst serta banyak peninggalan kuno lainnya yang diduga kuat berasal dari budaya zaman es.

"Secara kasat mata, kawasan karst ini berupa menara-menara terjal," papar Fauzi. Di dalam dan di bawah menara-menara itu ada banyak lorong-lorong gua, baik goa berair maupun goa fosil.

Baik Indra maupun Fauzi berharap ekspedisi ini bisa menjadi inspirasi akan rasa cinta tanah air, dan berkarya yang terbaik bagi bangsa. "Rasa cinta tanah air itu akan tumbuh secara sehat dalam kegiatan seperti ini," kata Indra.  (*)

Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar