Jumat, 22 September 2017

Kaltim Siap Gelar Bulan Eliminasi Kaki Gajah

id bulan eliminasi kaki gajah, dinas kesehatan kaltim, dr roni setiawati, popm filariasis
Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersiap menggelar Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) guna mencegah penularan penyakit kaki gajah atau filariasis di sejumlah daerah.

"Belkaga akan kami gelar bulan Oktober. Kegiatan ini diharapkan dapat dilaksanakan seluruh kabupaten/kota, sehingga upaya percepatan eliminasi filariasis dapat terwujud," ujar Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kaltim dr Roni Setiawati di Samarinda, Rabu.

Menurut ia, filariasis merupakan golongan penyakit menular yang disebabkan cacing filaria dengan penularan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini bersifat kronis, yakni apabila tidak mendapat pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki.

"Penyakit ini dapat menyerang hewan maupun manusia. Parasit filaria masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi. Kemudian cacing tersebut tumbuh dewasa, bertahan hidup selama enam hingga delapan tahun, selanjutnya terus berkembangbiak dalam jaringan limpa manusia," jelas Roni.

Ia melanjutkan, pelaksanaan Belkaga pada Oktober mendatang adalah dengan sub-program Pemberian Obat Pencegahan secara Massal (POPM) Filariasis.

Kegiatan POPM Filariasis ini sebelumnya juga sudah dilakukan Dinas Kesehatan Kaltim pada tahun 2015.

Pada tahun tersebut, terdapat enam kabupaten/kota di Kaltim yang melaksanakan POPM Filariasis, sementara tahun ini tinggal lima daerah yang harus melakukannya karena di Kabupaten Paser sudah dilakukan survei risiko penularan dan hasilnya bagus.

Lima daerah yang yang harus melakukan POPM Filariasis adalah Kabupaten Kutai Timur, Kutai Barat, Mahakam Ulu, Penajam Paser Utara, dan Berau.

Roni menuturkan bahwa POPM Filariasis diberikan untuk pencegahan penularan jenis penyakit ini tidak bisa dalam jangka satu tahun, tetapi selama lima tahun memberikan pengobatan dengan survei darah jari guna mengetahui risiko penularan.

"Hasil survei akan menentukan tindakan selanjutnya, apakah dihentikan atau dilanjutkan ke tahap POPM Filarasis. Seperti di Kutai Barat, sekarang sudah tahun ke-6 dilakukan POPM, sehingga diharapkan tahun depan setelah diadakan survei lagi dan hasilnya bagus, maka tidak ada penularan lagi," tuturnya.(*)

Editor: Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0113 seconds memory usage: 0.41 MB