Kamis, 24 Agustus 2017

Kenaikan Harga Garam Tak Beratkan Warga Samarinda

id harga garam, samarinda, setyowati,
Kenaikan Harga Garam Tak Beratkan Warga Samarinda
Petani garam yang sedang menggarap lahan garamnya (Dok ANTARA Foto/Dedhez Anggara))
Samarinda (ANTARA kaltim) -  Sejumlah warga kota Samarinda, Kalimantan Timur mengaku tidak keberatan dengan adanya kenaikkan harga garam di pasaran.

Alasannya, Setyowati mengatakan, warga jalan Dr Sutomo Samarinda, Minggu, kenaikan harga garam di pasaran tersebut masih bisa dijangkau, karena harganya yang relatih masih murah.

"Cuma naik Rp200 perak perbungkus, yang biasanya Rp1000 menjadi Rp1200, saya rasa masyarakat masih bisa membelinya," katanya.

Hanya saja Ibu rumah tangga ini berharap, kelangkaan salah satu bumbu dapur ini tidak bertambah parah, semisal sampai tidak tersedianya stok dipasaran.

"Yang penting barangnya masih ada buat kami ibu rumah tangga tidak masalah biar naik harganya, karena pasti akan repot bila kita harus memasak tanpa garam," jelasnya.

Ungkapan senada dikatakan Hamida, ibu tumah tangga warga kelurahan Lempake, Samarinda, yang menilai bahwa kebutuhan akan bumbu dapur tersebut sudah bisa diprediksi sebelumnya.

"Kalau saya biasanya memakai garam cukup dua bungkus saja sebulan, kalau langka seperti ini saya biasa menyetok sampai empat bungkus, biar ketika langka benar saya tidak repot," katanya.

Kelangkaan garam di sejumlah daerah di Indonesia ternyata juga berimbas untuk wilayah Samarinda, Kalimantan Timur, karena memang

kebutuhan bumbu dapur ini di datangkan dari luar Kalimantan.

Menurut Ibu Hasnah, pedagang di kios pasar Segiri Grosir, Samarinda, kenaikan harga garam dalam kisaran dua puluh persen dari harga biasanya.

Ia mengatakan garam dengan satuan perpak dengan isi 25 bungkus yang biasanya dijual dengan harga 18ribu naik menjadi Rp 20 ribu.

Sedangkan bila dijual eceran perbungkus yang biasanya dibanderol harga Rp1000 menjadi Rp1.200.

Untuk harga garam curah yang biasanya perkarung dengan isi satuan 50 pak dibandrol Rp 120rb menjadi Rp 150 ribu.

"Rata-rata kenaikan hingga 20 persen, sebenarnya tidak ada masalah bagi kami dengan kenaikan itu, asalkan stok barangnya masih ada,"katanya.

Menurut Hasnah bahwa hampir semua produk garam yang dijual di pasaran tradisional Samarinda didatangkan dari Pulau Jawa.

"Makanya ketika di Jawa ada kelangkaan garam, pastinya disini ( Samarinda-red) juga langka, tapi untungnya harganya masih terjangkau di pasaran," tegas dia(*)

Editor: Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0447 seconds memory usage: 0.35 MB