Kamis, 27 Juli 2017

GMSS-SKM Samarinda Terus Benahi Sekolah Sungai

id skm, sekolah sungai, gmss-skm, misman,
GMSS-SKM Samarinda Terus Benahi Sekolah Sungai
Ketua GMSS-SKM Samarinda,Misman (berdiri) saat menjadi pematari dalam Sekolah Sungai Karang Mumus di Posko GMSS-SKM Samarinda, (Dok Antara Kaltim / M Ghofar)
Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Lembaga Swadaya Masyarakat bernama Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda, Kalimantan Timur, terus membenahi bangunan kecil sebagai sekolah sungai, sehingga masyarakat beragam usia bisa memahami makna sungai.

"Sekolah sungai bukan seperti sekolah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang bahwa bangunannya mewah yang dilengkapi sederet pengajar, kemudian siswanya lulus dan mendapat ijazah," ujar Ketua GMSS-SKM Samarinda, Misman di Samarinda, Minggu.

Sekolah sungai, kata Misman, merupakan wadah pembelajaran bagi warga dengan usia berapapun karena belajar memang tidak mengenal usia. Para warga belajar di Sekolah Sungai diharapkan lebih mengenal dan memahami Sungai Karang Mumus (SKM).

Pola belajar di sekolah ini tidak dibatasi oleh waktu sehingga siapapun yang ingin lebih memahami fungsi sungai, bisa kapan saja datang ke sekolah sungai.

Bahkan dalam upaya memahami bagaimana semestinya memperlakukan sungai, warga belajar bukan sekedar mendapat bekal teori, namun langsung praktik merawat sungai beserta ruang sungainya seperti tidak membuang limbah dan sampah ke sungai.

Termasuk mengambil sampah yang hanyut di sungai, karena jika sampah dibiarkan akan merusak kualitas air dan menghancurkan kehidupan sungai. Pola ini termasuk salah satu bagian kecil dalam upaya restorasi sungai.

Warga belajar di Sekolah Sungai Karang Mumus, lanjutnya, akan ditunjukkan beberapa jenis tumbuhan khas SKM seperti pohon bungur, pohon kedemba, tebu salah dan aneka pohon lain, karena aneka jenis tumbuhan itu mulai dibudidayakan di Sekolah Sungai.

"Saat ini kami sudah menanam tumbuh khas SKM yang sudah hilang karena dibabat warga. Ada satu pohon khas Kalimantan yang sampai sekarang kami cari tapi belum ketemu, yakni pohon ipil, semoga pohon ini belum punah," tutur Misman.

Menurutnya, kehadiran Sekolah Sungai merupakan pengembangan dari edukasi GMSS-SKM yang telah berjalan dalam dua tahun ini, karena disadari bahwa dalam mendidik masyarakat untuk mengerti makna dan fungsi sungai bukan sekedar memungut sampah di sungai dan mengajak warga tidak membuang sampah ke sungai.

Menurutnya, Sekolah Sungai muncul untuk memberikan pemahaman kepada warga mulai anak-anak hingga orang tua tentang eksistensi sungai, yakni mengetahui apa itu restorasi sungai.

"Untuk bisa paham apa itu restorasi sungai, maka warga harus paham mengenai manfaat dan fungsinya, bagaimana cara merawat, menjaga, tidak merusak daerah aliran sungai, dan tidak membuang apapun ke sungai walau hanya setetes limbah maupun sehelai sampah," ucap Misman.(*)

Editor: Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0067 seconds memory usage: 0.35 MB