Jumat, 22 September 2017

Kenaikan Harga Makanan Penyumbang Utama Inflasi Mei

id BPS, inflasi, kenaikan harga, makanan, harga makanan
Kenaikan Harga Makanan Penyumbang Utama Inflasi Mei
Ilustrasi (ANTARA News)
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan kenaikan harga bahan makanan menjadi penyumbang utama inflasi Mei 2017 yang sebesar 0,39 persen.

"Kenaikan harga terjadi di seluruh kelompok pengeluaran, semua mengalami inflasi dengan kisaran berbeda," kata Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.

Dengan inflasi pada Mei tercatat sebesar 0,39 persen, maka inflasi tahun kalender Januari-Mei telah mencapai 1,67 persen dan inflasi dari tahun ke tahun (year on year) 4,33 persen.

Suhariyanto mengatakan kelompok bahan makanan menyumbang inflasi 0,86 persen, karena mengalami kenaikan harga akibat tingginya permintaan menjelang Ramadhan, yang masuk pada minggu keempat Mei 2017.

Beberapa komoditas yang kenaikan harganya menyumbang inflasi adalah bawang putih yang menyumbang inflasi 0,08 persen, telur ayam ras menyumbang 0,05 persen, daging ayam ras menyumbang  0,04 persen serta beras, serta daging sapi dan cabai merah masing-masing menyumbang 0,01 persen.

"Untuk bawang putih, minggu keempat ini, harganya mulai turun. Namun rata-rata bulan Mei, komoditas ini masih memberikan andil terhadap inflasi," kata Suhariyanto.

Meski demikian terdapat komoditas yang harganya mulai mengalami penurunan sehingga mampu menekan inflasi dan menyumbang deflasi yaitu cabai rawit (0,04 persen), bawang merah (0,02 persen) dan tomat sayur (0,01 persen).

Kelompok pengeluaran lain yang ikut menyumbang inflasi adalah makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,38 persen), terpengaruh kenaikan harga nasi dengan lauk, rokok kretek dan rokok kretek filter.

"Namun, harga gula pasir mengalami penurunan dan menyumbang deflasi 0,01 persen, karena kebijakan Kementerian Perdagangan yang menetapkan harga eceran tertinggi," ujar Suhariyanto.

Kelompok pengeluaran lainnya adalah perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang menyumbang inflasi sebesar 0,35 persen, karena masih terdampak dari penyesuaian tarif listrik dengan daya 900 VA pada periode ini.

"Penyesuaian tarif listrik ini menyumbang inflasi 0,06 persen. Penyesuaian tarif pasca bayar pada Mei ini bisa berdampak pada Juni," tambah Suhariyanto.

Suhariyanto menambahkan kelompok kesehatan menyumbang inflasi 0,37 persen karena naiknya tarif rumah sakit dan kelompok sandang mengalami inflasi 0,23 persen karena naiknya harga baju muslim perempuan.

Sementara kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, ikut menyumbang inflasi sebesar 0,23 persen, karena naiknya harga bensin jenis pertamax dan pertamax plus serta tarif angkutan udara.

"Meski demikian tarif pulsa untuk ponsel mengalami penurunan dan tercatat deflasi pada Mei sebesar 0,01 persen," kata Suhariyanto.

Kelompok pengeluaran lainnya yaitu kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga juga menyumbang inflasi sebesar 0,03 persen pada Mei 2017.

Secara keseluruhan, komponen harga bergejolak mempengaruhi inflasi Mei karena mengalami inflasi hingga 0,91 persen, diikuti harga diatur pemerintah 0,69 persen dan komponen inti sebesar 0,16 persen.

Sementara itu, dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak 70 kota tercatat mengalami inflasi dan 12 kota menyumbang deflasi pada Mei 2017.

Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 0,96 persen dan terendah terjadi di Sampit dan Bulukumba masing-masing sebesar 0,02 persen.

Sedangkan, deflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,13 persen dan terendah di Pematangsiantar sebesar 0,01 persen. (*)

Editor: Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0112 seconds memory usage: 0.37 MB