Kamis, 27 Juli 2017

Memaknai Sebuah Kebangkitan

id Bts, Pembangunan, Kebangkitan nasional, momentum kebangkitan, makna kebangkitan
Memaknai Sebuah Kebangkitan
Ilustrasi -- Petugas membenahi jaringan telekomunikasi. (ANTARA News)
Samarinda (ANTARA Kaltim) - Berawal sejarah panjang sebuah perjuangan di bawah bayang-bayang penjajah Belanda. Pada tahun 1905, berdiri Sarekat Dagang Islam di Pasar Laweyan, Solo.

Dilanjutkan beberapa organisasi lain, sampai kemudian 20 Mei 1908 berdiri organisasi Boedi Oetomo.

Beberapa organisasi tersebut didirikan untuk kebangkitan pergerakan nasional Indonesia agar bangsa ini bangkit dan terlepas dari cengkeraman penjajah.

Sejarah panjang itulah sehingga setiap 20 Mei dijadikan simbol Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Jika generasi terkini mau menengok ke belakang, apalagi mendalami sejarah masa lampau tentang bagaimana sulitnya hidup di tengah penjajahan, tentu saat ini tidak ada tindak kekerasan hanya karena berbeda suku, hanya karena berbeda agama, maupun perbedaan lain yang menyebabkan perpecahan.

Peringatan Harkitnas sebagai refleksi perjalanan panjang bangsa Indonesia karena dalam sejarahnya menemui banyak liku dan sarat pengalaman bagi keberlangsungan perjalanan dari pelbagai gerakan hingga saat ini.

Menurut Amiruddin, Kepala SMP Aminah Syukur Samarinda, dinamika yang menyertai perjalanan sejarah bangsa turut memberikan efek dominan menuju kedewasan berpikir dan bertindak, semangat berbangsa dan bernegara dalam membentuk tatanan ideal demi terwujudnya bangsa bermartabat.

Ia mengaku bangga karena sekarang infrastruktur sudah banyak, sekolah sudah tersebar sampai ke pelosok, masyarakat sudah menikmati listrik, telepon, bahkan jaringan internet, dan infrastruktur lainnya.

Pertanyaannya, bagaimana dengan moral masyarakat bangsa ini? Sudah banyakkah yang paham makna peringatan Harkitnas? Sudahkah belajar sejarah dan mengimplementasikan dalam kehidupan agar kita tidak mudah diadu domba?

Hingga kini, masih banyak peristiwa yang membuat orang lain miris, bahkan cenderung pesimistis terhadap kondisi kekinian bangsa ini.

Peringatan Harkitnas kemudian dijadikan hal biasa, bukan sesuatu yang sakral bagi sebagian warga Indonseia. Terkesan malah dijadikan sebuah rutinitas tanpa makna dan tanpa bernilai sejarah.

Namun, dia tetap berharap dalam peringatan Harkitnas kali ini rakyat Indonesia, termasuk generasi penerus, dapat memaknai kembali semangat nasionalisme dan memandang jauh ke depan bahwa ada generasi penerus yang harus mendapatkan pembinaan.

Karakter Pendidikan

Peringatan Harkitnas Ke-109 ini harus dijadikan momentum dalam menanamkan karakter bagi peserta didik.

Menurut Amiruddin, ada 18 nilai dalam pendidikan karkter, salah satunya adalah semangat kebangsaan, yakni sikap dan tindakan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Nilai kebangsaan atau nasionalisme ini harus terus dikembangkan, selain nilai yang lain juga tetap menjadi perhatian. Dengan demikian, generasi muda paham bahwa Indonesia itu beragam mulai dari berkesenian, budaya, adat, suku, agama, dan kekayaan alam dari Sabang sampai Merauke.

Pelajar juga harus mendapat pemahaman bahwa Harkitnas merupakan bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia yang terjadi lebih dari 100 tahun lalu. Maka, dengan memperingatinya, berarti belajar memahami sejarah.

Setelah memhami sejarah, diharapkan pelajar dapat menanamkan etos perjuangan generasi pendahulu untuk generasi berikutnya, baik bagi siswa SMP Aminah Syukur maupun bagi seluruh siswa di Indonesia.

Etos perjuangan yang menjadi semangat saat ini adalah perjuangan Indonesia menuju negara maju, modern, adil, sejahtera, dan berkarakter. Hal ini merupakan cita-cita bersama yang mesti diwujudkan mulai dari pendidikan di rumah, sekolah, dan di tengah masyarakat.

"Kiasan `bersatu kita teguh bercerai kita runtuh` sebenarnya mencerminkan karakter yang seharusnya menjadi landasan dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Hal ini mengingat bahwa kita adalah saudara," ucapnya.

Namun, saat ini sering terjadi kerusuhan, seperti tawuran anak sekolah, kemudian kekerasan terkait dengan agama, suku, dan lainnya, padahal sepantasnya hal ini tidak boleh terjadi.

Pelbagai peristiwa tersebut mencerminkan bahwa masih ada sebagian rakyat yang kurang memahami makna dari kebangkitan nasional, atau mungkin sudah luntur rasa nasionalismenya.

Di sisi lain, dia juga menyatakan bahwa pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan bagi masyarakat tidak diimbangi dengan sistem penyelenggaraan yang memadai sehingga menghasilkan proses dan hasil pendidikan di sekolah yang bersifat formalitas.

Sekolah dimaknai sebagai bagian yang harus dilewati pada usia tertentu, waktu tertentu, dan harus selesai dengan "mengantongi" ijazah, tanpa mempertimbangkan apa yang terbaik harus didapat dari pendidikan di sekolah. Ini yang harus menjadi perhatian.

Warna

Menurut Syafruddin Pernyata, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, peringatan Harkitnas harus dijadikan momentum untuk lebih mencintai negeri yang penuh warna, elok, dan kaya budaya ini.

"Upacara Harkitnas merupakan seremonial untuk mengenang peristiwa 109 tahun silam. Namun, yang paling penting setelah peringatan ini adalah bagaimana kita memaknai, kemudian mengimplementasikan dalam bentuk kecintaan terhadap bangsa dan negara," ujarnya.

Indonesia memiliki keragaman kultur, suku, agama, bahkan plural lain sehingga setiap individu harus memahami makna keberagaman ini supaya tidak membenci penduduk yang berbeda agama, tidak mencemooh hanya karena beda suku, tidak merendahkan hanya karena status ekonomi.

Menurut dia, warna jika hanya satu, akan monoton, tidak indah, tidak memiliki daya tarik sehingga tidak banyak orang yang melirik karena memang tak menarik.

Itulah yang terjadi di Indonesia, penuh warna dari berbagai agama, suku bangsa, budaya, bahkan warna alamnya sehingga perbedaan ini seharusnya tidak dipermasalahkan, tetapi harus disatukan supaya muncul keindahannya.

Pemerataan

Sementara itu, Abdullah Sani, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur, menilai peringatan Harkitnas pada tahun ini merupakan momentum sebagai upaya mewujudkan pemerataan pembangunan hingga kawasan perbatasan.

"Selama ini kami terus berupaya mewujudkan pemerataan pembangunan bidang telekomunikasi di kawasan perbatasan, terpencil, dan daerah pinggiran, seperti dalam kurun 2013 hingga 2017 kami sudah membangun 11 menara telekomunikasi," ujar Sani.

Memang masih ada sejumlah desa di kawasan perbatasan dan pulau terluar yang belum terlayani jaringan telekomunikasi nirkabel (blank spot). Namun, upaya yang telah dilakukan selama ini dalam membangun menara merupakan bukti komitmen melakukan pemerataan pembangunan.

Setiap pembangunan tidak bisa dilakukan layaknya permainan sulap, tetapi pembangunan membutuhkan waktu panjang dan perlu didukung keuangan sehingga semua pihak diminta bersabar karena saat ini kondisi keuangan Kaltim sedang defisit akibat perekonomian global yang belum ada kepastian.

Terkait dengan 11 menara telekomunikasi yang telah terbangun tersebut, keberadaannya tentu bermanfaat untuk membuka keterisolasian akses telekomunikasi bagi masyarakat. Warga di kawasan tersebut kini bukan saja bisa bertelepon menggunakan nirkabel, melainkan juga bisa mengakses data internet.

Sekarang mereka tidak hanya bisa menelepon dengan layanan 2G, sebagian di antaranya sudah bisa mengakses internet layanan 3G, khususnya di Long Bagun dan Ujohbilang, Kabupaten Mahakam Ulu.

Ke depan, dia berharap semua daerah yang sudah bisa mengakses layanan 2G, kemudian meningkatkannya menjadi layanan 3G.

Dalam hal itu, dia mengaku sudah berkomunikasi dengan Menteri Kominfo RI terkait dengan permohonan agar segera mewujudkan permintaan masyarakat untuk dapat mengakses internet tersebut.

Pemerataan pembangunan tersebut secara perlahan akan diwujudkan sehingga diharapkan ke depan seluruh wilayah Kaltim mendapat pelayanan 3G. Khusus perkotaan, sudah masuk generasi 4G dan 4,5G yang dapat mengakses data lebih cepat.

Hal itu merupakan salah satu bentuk dari implementasi Harkitnas sehingga warga di kawasan perbatasan dan kawasan pesisir juga bisa bangkit dalam menambah wawasan dan pengetahuan setelah bisa mengakses internet.

Sani mengatakan bahwa pihaknya terus mendidik masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi yang kian berkembang, yakni menggelar program pelatihan penggunaan internet secara benar dan sehat.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 986 Tahun 2017, tema peringatan Harkitnas pada tahun ini adalah "Pemerataan Pembangunan Indonesia yang Berkeadilan sebagai Wujud Kebangkitan Nasional".

Terkait dengan tema itu, dia mengajak semua organisasi perangkat daerah mengimplementasikan pembangunan yang merata hingga semua penjuru desa agar semua merasa mendapat perhatian yang sama.

Semoga dalam peringatan Harkitnas kali ini menjadi titik awal dalam membangun kesadaran, memperbaiki moral dan perilaku dari diri sendiri, serta menghargai perbedaan sehingga tercipta damai yang hakiki serta tercipta persatuan dalam bingkai NKRI. (*)

Editor: Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0111 seconds memory usage: 0.42 MB