Senin, 25 September 2017

Nilai Tukar Petani Kaltim Kembali Turun

id BPS, nilai tukar, NTP Kaltim, petani kaltim, BPS Kaltim
Nilai Tukar Petani Kaltim Kembali Turun
Kepala BPS Provinsi Kaltim M Habibullah. (ANTARA Kaltim/Muhammad Ghofar)
Samarinda (ANTARA Kaltim) - Nilai tukar petani di Provinsi Kalimantan Timur dalam dua bulan terakhir menurun, dari 98,99 poin pada Februari, turun menjadi 98,25 pada Maret dan 97,21 poin pada April, yang menggambarkan kondisi petani makin tak berdaya.

"Angka keseimbangan NTP (nilai tukar petani) adalah 100. Jika di atas 100 berarti petani sudah sejahtera, tapi jika NTP di bawah 100 seperti yang terjadi selama ini, maka kehidupan petani tidak berdaya karena daya belinya menurun," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kaltim M Habibullah dihubungi di Samarinda, Senin.

Secara umum, katanya, penurunan NTP dipengaruhi indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan 0,21 persen, sementara indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan 0,86 persen.

Jika dirinci per subsektor pertanian yang disurvei oleh BPS Kaltim pada April 2017, jelas Habibullah, NTP untuk subsektor tanaman pangan tercatat 95,76, kemudian hortikultura sebanyak 92,76, dan tanaman perkebunan rakyat 96,42.

"Dari lima subsektor pertanian yang ada, hanya ada dua subsektor yang kehidupan petaninya lebih baik pada April lalu, karena NTP-nya di atas 100, yakni subsektor peternakan dengan NTP tercatat 103,02 dan subsektor perikanan yang tercatat 101,02," ujarnya.

Ia melanjutkan perkembangan NTP menurut subsektor pada April terhadap Maret terjadi peningkatan pada perikanan yang naik 0,53 persen.

Sementara empat subsektor lainnya terjadi penurunan, yakni tanaman pangan turun 1,63 persen, hortikultura turun 0,87 persen, perkebunan rakyat turun 1,20 persen, dan subsektor peternakan mengalami penurunan 1,40 persen.

Menurut Habibullah, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan berbagai jenis barang dan jasa yang dikonsumsi petani maupun untuk biaya produksi.

"Semakin tinggi NTP, maka secara relatif semakin kuat pula daya beli petani. Kondisi yang ada sekarang, meski ada dua subsektor yang NTP-nya di atas 100, namun jika dihitung rata-rata, maka NTP Kaltim masih di bawah 100, sehingga diperlukan langkah strategis agar kehidupan petani terdongkrak," ujar Habibullah. (*)

Editor: Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0235 seconds memory usage: 0.48 MB