Selasa, 23 Mei 2017

Membudayakan Gemar Membaca Sejak Dini

id Baca, membaca, gemar membaca, minat baca, perpustakaan kaltim
Membudayakan Gemar Membaca Sejak Dini
Ilustrasi: Membaca koran (ANTARA News)
Samarinda (ANTARA Kaltim) - Siang itu, Aryatama, siswa kelas I SMPN 37 Samarinda, Kalimantan Timur, terlihat asyik memainkan gawai (gadget) pemberian ayahnya hingga tidak mempedulikan orang lain di sekitarnya.

Beberapa bulan terakhir ini, dia lebih sering memegang gawai ketimbang buku, sehingga jemarinya lincah membuka tiap "folder" dan aplikasi, bahkan sudah piawai "berselancar" menjelajahi dunia maya mencari informasi apa saja yang dibutuhkan.

Bahkan, untuk menyelesaikan PR-nya pun, siswa dengan ranking 8 di kelasnya ini langsung membuka telepon pintar itu, karena buku paket miliknya kerap tidak memiliki jawaban atas pertanyaan dari guru untuk PR-nya.

Ia tahu di buku paket itu tidak ada jawaban seperti pertanyaan dalam pekerjaan rumahnya, karena sebelumnya Arya sudah berkali-kali membaca buku tersebut.

Namun, diakuinya lama waktu untuk akrab dengan buku paket dan telepon pintar, memang jauh berbeda. Jika membaca buku (di luar jam sekolah) hanya dua jam per hari, maka lama waktu yang ia gunakan bersama gawainya bisa sampai empat jam.

Gawai tersebut, selain ia gunakan membaca informasi dari media sosial juga informasi baik dalam negeri maupun luar negeri, sehingga meski ia di rumah namun pengetahuannya cukup luas berkat keseringannya membaca via telepon pintar itu.

Namun, Arya mengaku gawai tersebut juga sering digunakan main "game" karena banyak jenis permainan yang diunduh secara gratis.

Kondisi anak Indonesia yang suka membaca melalui gawai ini tentu tidak adil jika dihubungkan dengan hasil survei oleh UNESCO pada 2011 lalu.

Hasil survei itu menghasilkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1.000 penduduk yang gemar membaca.

Kemudian pada Maret 2016, Most Literate Nations in the World melakukan pemeringkatan literasi internasional. Hasilnya, Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara.

Hasil survei dan pemeringkatan ini merujuk pada minat baca atau kegemaran membaca via buku fisik, padahal sumber ilmu maupun wawasan tidak harus lewat buku fisik, apalagi kini sudah era digital dan banyak e-book, sehingga survei minat baca juga harus diarahkan pada sarana elektronik.

Tujuan membaca adalah meningkatkan wawasan dan pengetahuan, maka tidak penting bentuk buku apa yang dibaca karena masyarakat dan siswa ingin yang praktis dan murah, sehingga pilihannya kemudian jatuh pada elektronik, sepanjang mampu memfilter informasi apa saja yang layak dikonsumsi.

Apalagi pemerintah juga sudah mewacanakan sekolah tanpa kertas. Ini berarti keberadaan buku fisik jelas akan berkurang karena tergantikan dengan e-book.

Bahkan pemerintah juga sudah menyediakan laman yang berisi berbagai jenis e-book untuk dapat diunduh siswa mulai SD hingga SMA.

Bercermin dari kondisi ini, tentu menjadi tidak adil jika minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah tersebut hanya diukur dari survei kegemaran membaca hanya berpatokan pada buku fisik.

Sudut Pandang

Menurut Muhammad Aswin, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kaltim, minat baca terhadap buku fisik dan minat baca secara elektronik, sebenarnya lebih pada sudut pandang yang berbeda sehingga muncul penilaian yang berbeda pula.

Jika minat baca warga Kaltim bahkan Indonesia dinilai rendah, hal itu memang benar, jika sudut pandangnya adalah buku fisik, tapi jika sudut pandangnya adalah elektronik baik e-book, melalui WhatsApp, medsos, atau membaca berita dan pengetahuan, maka diyakini minat baca masyarakat Indonesia masih tinggi.

"Kalau secara umum dikatakan minat baca bangsa kita rendah, saya kira tidak juga karena di mana pun orang berada selalu membawa telepon pintar dan mereka sering membaca lewat HP-nya. Apakah ini namanya bukan gemar membaca. Namun jika ukuran membaca secara fisik atau harus membaca buku, ya memang masih rendah," katanya.

Di Indonesia termasuk di Kaltim, katanya, kebiasaan masyarakat membaca dalam sehari rata-rata dua jam, sementara di negara lain rata-rata meluangkan waktu membaca sampai enam jam per hari.

Ia juga menilai bahwa masyarakat yang lahir di kisaran tahun 1960-an, mungkin e-book, gadget dan sejenisnya merupakan masalah karena mereka sudah akrab dengan buku.

Sebaliknya, bagi warga yang lahir di era digital, mungkin buku justru menjadi masalah karena bisa saja generasi terkini menilai sudah ada fasilitas elektronik yang murah dan praktis, mengapa harus mempertahankan yang susah.

Terkait dengan minat baca warga Kaltim terhadap buku fisik, ia bekerja sama dengan Litbang setempat pernah melakukan pendataan dengan item yang disasar antara lain gemar, minat, kemammpuan, dan sarana yang tersedia untuk membaca.

Hasil pendataan itu antara lain menemukan bahwa rata-rata lama membaca buku warga Kaltim hanya dua jam per hari, kemudian jumlah halaman yang dibaca masih di bawah 100 halaman, padahal di negara lain 1.500 halaman per minggu.

Kemudian nilai uang yang dikelurkan untuk membeli buku masih di bawah Rp500 ribu per bulan, kebiasaan membaca seperti waktu luang yang kebanyakan digunakan untuk menonton televisi.

Aswin melanjutkan, untuk menumbuhkan minat baca harus mulai dirangsang sejak anak usia di bawah lima tahun (balita) dengan membiasakan mengenalkan buku dan berbagai gambar yang menarik, sehingga sejak balita sudah mengenal buku dan isinya.

Secara umum, lanjutnya, anak usia SD atau remaja suka membaca komik, sehingga dari usia ini orang tua harus memahami apa yang diminati anak. Melalui pola pendekatan ini diyakini mampu membentuk karakter anak untuk biasa membaca.

Sedangkan ketika anak mulai masuk SMA biasanya sudah menyukai membaca majalah, koran, dan aneka bacaan lain. Kegemaran membaca ini karena sejak dini sudah mulai dikenalkan oleh orang tuanya.

Berbeda dengan anak yang sejak dini tidak pernah dikenalkan apa itu buku, maka ketika usia sekolah sampah dewasa pun akan tetap malas membaca, karena pembentukan karakter dan budaya lebih ampuh ketika dilakukan mulai dini.

Harus Aktif

Guna menyadarkan masyarakat mengenai arti penting dan manfaat membaca, maka selain berbagai upaya yang terus dilakukan oleh badan/dinas perpustakaan, maka mitra kerja pemerintah juga harus terus aktif bergerak, karena kebiasaan membaca selain mampu meningkatkan pengetahuan juga akan mengangkat derajat masyarakat.

Ketika berada di Samarinda, Ketua Umum Gerakan Pemasyarakatan dan Minat Baca (GPMB) Pusat Bambang Supriyo Utomo mengatakan minat baca warga Indonesia masih rendah, sehingga ia merespons positif pengurus GPMB Kaltim yang baru dilantik.

"Keberadaan GPMB penting karena tidak dipungkiri minat baca di Indonesia masih rendah. Bahkan Presiden RI menyebut minat baca masyarakat Indonesia berdasarkan penelitian, menempati peringkat kedua dari bawah terhadap 61 negara yang diteliti," ujar Bambang.

Hal itu dikatakan Bambang setelah melantik Pengurus Daerah GPMB Kaltim periode 2016-2019, bulan lalu di Kantor Gubernur Kaltim.

Ia melanjutkan, berdasarkan data dari BPS 2012, terdapat 91 persen penduduk dengan usia 10 tahun ke atas lebih suka menonton televisi. Sedangkan mereka yang suka membaca buku hanya 17 persen.

Menurutnya, masyarakat harus sadar, daya saing Indonesia sekarang masih di tataran peringkat 30-an.

Untuk tahun 2019 diharapkan minimal sama dengan Malaysia yang di bawah 30 sebelum menghadapi era persaingan bebas.

Bambang berharap PD GPMB Kaltim segera melakukan kerja sama dengan instansi yang membidangi perpustakaan daerah, termasuk instansi lain dalam upaya memasyarakatkan membaca kepada kalangan luas.

Dia juga minta pengurusan GPMB Kaltim segera membentuk GPMB di tingkat kabupaten/kota, kecamatan, hingga kelurahan/desa seperti yang telah dilakukan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mengingat membaca merupakan hal yang penting.

Sementara Ketua GPMB Kaltim Encik Widyani menyatakan siap membentuk kepengurusan GPMB hinga ke daerah-daerah, sehingga generasi sekarang lebih suka telepon pintar diharapkan gemar juga membaca buku.

"Insya Allah akan diupayakan meningkatkan minat baca, makanya kami juga berencana menggelar kompetisi baca cepat dan lomba baca cerpen untuk anak. Tujuannya jelas, untuk membudayakan anak gemar membaca buku," ujar Encik. Masing-masing bahan bacaan baik fisik maupun elektronik memiliki kelebihan, dan semuanya merupakan sumber untuk meningkatkan kecerdasan sepanjang bisa memilah jenis bacaan. (*)

Editor: Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0145 seconds memory usage: 0.44 MB