Samarinda (ANTARA News-Kaltim) - Tangan-tangan terampil gadis-gadis dan ibu-ibu dari sub etnis (anak suku) Dayak Aoheng mengayam lembar demi lembar daun pandan hutan yang sudah diolah berwarna-warni.

Beberapa saat kemudian, hasil anyaman daun pandan itu menjadi sebuah tas laptop unik dan indah dengan ukiran ornamen dayak kaya akan warna.

Duduk di antara para wanita itu, tampak seorang ibu paruh baya (54) yang tampaknya menjadi instruktur, yakni Hangin Bong Donggo.

Siapa menduga bahwa dari hasil ketrampilan tangan-tangan wanita Dayak Aoheng itu bukan saja membuat kekaguman nasional namun juga telah memukau mata dunia, lihat saja pada 2007, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) memberikan penghargaan saat pameran budaya di Hongkong 2007.

Kala itu, pihak Dekranas mengikutsertakan hasil karya milik Hangin (salah seorang perajin dari Kaltim) pada lomba barang seni dan budaya di Hongkong.

Selain keindahan dan keunikan berbagai produk kerajinan tangan wanita Dayak Aoheng itu,
pihak Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB merupakan badan khusus PBB yang didirikan pada 1945 menilai bahwa kreatifitas memanfaatkan tanaman padan hutan perlu dilestarikan.

Kemudian pada 2009, Hangin memperoleh penghargaan Upakarti dari pemerintah untuk kategori pelopor dalam melestarikan seni dan budaya.

Harus diakui bahwa upaya pelestarian budaya itu mendapat dukungan penuh dari sebuah perusahaan Migas di Kaltim, Total E & P Indonesie melalui Yayasan Bhakti Total mendirikan tempat pelatihan sekaligus pamaren hasil kerajinan wanita Dayak itu, yakni "Rumah Bhakti Lestari".

Rumah Bhakti Lestari bisa dikatakan sebagai wadah konservatori untuk pelestarian warisan budaya dan usaha kerajinan tradisional Kalimantan.

Yayasan Bhakti Total Bagi Indonesia Lestari didirikan oleh beberapa karyawan Total E & P Indonesie pada tanggal 24 Juli 2008 dengan dukungan penuh dari manajemen perusahaan minyak dan gas (migas) asal Prancis ini.

"Saya hanya ingin melestarikan seni dan budaya Dayak, baik itu menganyam pandan, rotan maupun manik kepada masyarakat terutama generasi muda," kata Hanging.

Barang kerajinan anyaman rotan, bambu dan manik-manik yang dihasilkan para ibu tersebut diantaranya adalah tas punggung yang biasanya orang Kalimantan menyebutnya "anjat" dengan berbagai ukuran sesuai kegunaanya ada yang untuk mengendong anak atau membawa padi.

Selain itu, ada juga tas, tempat laptop, taplak meja manik dan topi, semuanya terpajang apik di beberapa ruang pamer rumah Bhakti Lestari.

Hangin mengatakan kerajinan menganyam yang diberikan kepada masyarakat di beberapa wilayah di Kaltim, bukan sembarang menganyam barang kerajinan yang ada di pasaran.

"Saya menganjarkan seni menganyam rotan dan pandan untuk jenis-jenis motif serta gaya kuno yang dulu banyak dimiliki oleh suku Dayak yang telah banyak hilang," ujarnya.

Melestarikan seni menganyam pandan dan rotan bagi perempuan tua yang masih suka memakan daun sirih dengan mencampur buah pinang ini, telah dilakukannya dengan mengajarkan ilmu tersebut ke masyarakat sejak 2002.

"Saya sedih saat itu, melihat ada beberapa perempuan pada usia sudah 30 tahun di kampung saya daerah Long Pari tidak bisa menganyam rotan dan pandan," ujarnya.

Long Pari merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Kutai Barat wilayah utara Kaltim yang berbatasan dengan negeri "Jiran" Malaysia.

Hangin mengharapkan bila banyak masyarakat terutama perempuan bisa menganyam kerajinan rotan, pandan dan manik, maka tidak perlu bekerja di luar daerah karena produksi kerajinan tersebut dapat dijual dan menambah pendapatan.


Diakui Dunia

Seni budaya suku Dayak yang dilestarikan dan diperkenalkan ke masyarakat oleh Hangin sudah diakui keberadaannya baik di dalam maupun luar negeri seperti Jerman dan Australia, melalui Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) hasil kerajinan yang diajarkannya sudah banyak diproduksi.

Bahkan pada 2007 saat Dekranas mengikut sertakan hasil karya milik Hangin pada lomba barang seni dan budaya di Hongkong memperoleh penghargaan dari UNESCO.

Kemudian pada 2009, Hangin memperoleh penghargaan Upakarti dari pemerintah untuk kategori pelopor dalam melestarikan seni dan budaya.

"Selain seni menganyam saya juga mengajarkan tari-tarian suku Dayak di sanggar milik sendiri bernama "Doran Kori" di Samarinda," kata Hangin menambahkan.

Perempuan yang memiliki "tatong" yang artinya tato yang dibuat dengan pewarna alami pada pergelangan kaki sebelah kanannya dengan motif khas suku Dayak sangat gemar menari Enggang dan Sangkep.

"Menganyam dan menari dari suku Dayak, sudah lama saya tekuni dan merupakan warisan turun temurun dari keluarga dan alam sekitar," katanya.

Keberadaan rumah Bhakti Lestari dalam upaya pelestarian kesenian asli suku Kutai dan Dayak, bagi Hangin sangat membantunya dalam melestarikan warisan seni dan budaya yang dimiliki.

Sementara itu, Communication Total Group, Andrew Hogg merasa bangga dengan adanya rumah Bhakti Lestari yang didirikan oleh Total E & P Indonesie.

"Rumah Bhakti Lestari yang didirikan Total merupakan pendekatan yang dilakukan secara inovatif, karena tidak semua filial yang memiliki yayasan yang spesifik seperti ini" kata Andrew.

Keberadaaan rumah Bhakti Lestari diharapkan masyarakat Kaltim lebih mencintai dan menghargai kebudayaann dan terus berkarya, ujarnya.

"Saya harapkan juga masyarakat dalam melestarikan budaya lokal jangan merusak lingkungan sekitar, karena menggunakan bahan baku dari alam," kata Andrew.


Menjaga kearifan lokal

Sebagai salah satu perusahaan migas yang melakukan eksplorasi dan bermitra dengan pemerintah, Total E & P Indonesie memiliki tanggung jawab untuk mensejahterakan masyarakat sekitar wilayah kerjanya.

"Total Group memiliki komitmen berkontribusi terhadap sosial,ekonomi dan budaya setempat," kata Vice President Corporate Communication, Government Relations and Corporate Social Relations (CSR) Total E & P Indonesie, Judith J. Navarro Dipodiputro.

Wadah ini juga untuk melaksanakan promosi budaya dan kerajinan tradisional Kalimantan, seperti turut serta berpartisipasi dalam kegiatan pameran lokal maupun nasional.

"Selain itu, rumah Bhakti Lestari berfungsi sebagai tempat pelestarian kesenian wayang dari berbagai daerah di Indonesia serta penterjemahan dan penerbitan naskah-naskah kuno dan prasasti-prasasti yang tersebar di seluruh Indonesia," ujarnya.

Berbagai kegiatan proyek pelestarian budaya dan kerajinan Kalimantan yang dilakukan terdiri dari mendirikan pusat dokumentasi atau perpustakaan, dimana saat ini telah tercatat sebanyak 915 judul bukul kebudayaan dan umum, 596 salinan laporan hasil riset sosial dan budaya Kaltim serta 256 kaset lagu-lagu dan instrumentalia musik daerah Kaltim.

Kegiatan lain, misalnya mengadakan pusat pelatihan dan galeri, seperti demonstrasi anyaman pandan dan rotan, mengadakan kelas pelatihan maupun kursus kerajinan tangan suku Dayak Kaltim berupa anyaman pandan dan rotan untuk umum, murid sekolah dan dewasa.

"Rumah Bhakti Lestari juga menjadi pusat pelatihan bagi para perajin suku Dayak Kaltim dalam usaha menemukan, melestarikan dan membuat kembali kerajinan-kerajinan suku Dayak yang sudah hilang dan ruang pameran berbagai produk kerajinan anyaman," kata Judith, menambahkan.

Peran perusahaan Migas dari Perancis tersebut ternyata begitu besar dalam melestarikan sekaligus memperkenalkan keanekaragaman budaya nusantara yang tampaknya perlu ditiru oleh berbagai perusahaan lain, mengingat di Kaltim banyak perusahaan raksasa yang mengelola Migas, hutan, kebun dan batu bara.

Editor: Iskandar
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar