Berita Terkait
Balikpapan (ANTARA Kaltim) - Sejak terjadi longsor dan ambles tahun 2007, perbaikan ruas jalan Soekarno-Hatta sepanjang 100 meter di sisi barat belum juga tuntas hingga saat ini.

Kepala Dinas kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Balikpapan Tara Allorante, di Balikpapan, Sabtu mengatakan, perbaikan ruas jalan Soekarno-Hatta sebenarnya bukan tanggungjawab Pemkot karena status jalan nasional.

Dikatakan, perbaikan sebenarnya sudah pernah dilakukan dan proyek yang tidak selesai itu menyisakan bagian yang dipagar seng berwarna hitam dan kuning berselingan. Di jalan yang ambles itu banyak batu-batu kerikil, baik dalam tumpukan maupun terhampar.

Siring beton dari perbaikan sebelumnya juga terlihat patah dan roboh.

Bagian jalan yang saat ini tidak ada kegiatan apa pun itu dimanfaatkan bengkel mobil yang ada di dekat situ menjadi tempat parkir.

Untuk masuk kota, kendaraan dibolehkan mengambil separo jalan berlawanan, yaitu arah luar kota yang sebelumnya dilebarkan hingga batas pagar Markas Zeni Tempur Kodam VI Mulawarman yang tepat berada di depan jalan itu.

Selama ini kata Kepala Dinas PU, sebagai bentuk tanggungjawab, Pemerintah Kota Balikpapan sudah melaporkan halnya kepada Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kaltim.

Tinggal pemerintah provinsi bagaimana responnya, yang pasti kami sudah laporkan,� kata Tara.

Kejadian longsor seperti ini memang banyak terjadi di ruas jalan di Balikpapan atau tempat-tempat lain di Kalimantan Timur. Di Jalan Soekarno-Hatta, selain di Km 3,5, juga ada longsor di Km 8, di Km 9, Km 10, di depan pompa bensin di Km 16, hingga dekat perbatasan dengan Kutai Kartanegara di Km 24.

Kondisi badan jalan turun juga terus terjadi hingga menjelang masuk kota Samarinda.

Menurut keterangan Budi Laksono, Kepala Seksi Jembatan dan Bangunan Pelengkap Dinas PU Kalimantan Timur, longsor tersebut diakibatkan karena lapisan tanah yang labil di sepanjang jalan itu dibangun.

Penyebab karena adanya lapisan batubara. Saat dibangun, pondasi sudah kokoh. Tapi hujan membuat lapisan batubara yang terbuka bergeser dan menggeser juga lapisan di atasnya.

Salah satu cara mengatasi pergeseran itu dengan memasang siring, jelas Budi.

Pergeseran tanah itu tidak jarang memakan korban harta. Sekurangnya tiga rumah di Km 10 Soekarno-Hatta, misalnya, roboh terbawa jalan raya yang ambles di depannya.

Kecelakaan lalu lintas juga kerap terjadi karena pengendara atau pengemudi yang tidak waspada tiba-tiba mengubah arah menghindari jalan ambles dengan memotong jalur kendaraan lain, baik yang berlawanan ataupun yang beriringan.

Seperti menyambung penjelasn Budi, menurut Tara Allorante, bagian titik-titik jalan yang ambles itu sebenarnya sudah berulang kali longsor dan berulang kali juga diperbaiki. (*)

Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar